Cerpen Percintaan "Cinta Yang Tak Terucap"


Title: Cinta Yang Tak Terucap
Tema: Cinta
Kiriman: Suzy
Referensi: Suzynote



Cinta Yang Tak Terucap

Setahun berlalu dan bayangmu semakin membuatku jatuh dalam kenyataan ini. Rasa sakit yang menggelayuti hati, merangkul tubuh yang rindu akan senyummu. Sosokmu yang dulu hadir perlahan menghampiriku dengan hangat dan menyemaikan benih cinta di ladang hati yang gersang ini.

Tak kusangka aku begitu menyayangimu….!!!

Tapi saat ini, suara tawamu sesakkan jantugku. Tatap matamu bekukan tubuhku. Caramu bicara teteskan air mataku. Inilah yang kurasakan padamu saat ini. Kau berubah menjadi sosok yang begitu dingin, sosok yang tak menganggapku ada. Padahal dulu kau adalah makhluk terhangat yang pernah kutemui, selalu ada di sampingku, meski kau bukan milikku.  Apa yang membuatmu begitu berubah? Apa salahku?

Akhirnya, rasa penasaran dan serba salah yang aku rasakan. Aku rindu akan tawamu yang dulu, aku rindu akan candamu dulu, aku rindu dengan tingkah konyolmu waktu itu.

“Hey… jangan melamun terus…!!!” kata Shely membuyarkan lamunanku.

“Apaan sih, kaget tau…” dengan sedikit terlonjak aku memukul bahu sahabatku itu.

“Aduh,” katanya mengerang kesakitan. “Kamu sih, sadar tidak kamu sedang ada di mana?” kata-kata Shely yang langsung membuat tubuhku membeku. Ternyata dari tadi aku masih berdiri di depan pintu kelas dengan tatapan kosong, tanpa melakukan apapun.

“Oh, my God… bodoh banget.” Sambil menyentuh kening, aku merasa betapa bodohnya aku saat itu.

“Hey Vey, lagi ada masalah ya? Aku lihat dari kemarin kamu murung terus. Ada apa? Cerita dong!!” katanya yang langsung ke inti pembicaraan yang paling kuhindari saat ini.

“Emh, nggak ada apa-apa. Beneran.” Kataku dengan suara yang terdengar lemah.

“Okey, masuk yuk” ajaknya “Lain kali jangan berdiri melamun seperti ini lagi, okey!” sambil mengacungkan jari-jarinya ke dahiku.

“Okey…!!!”

Meski aku tak pernah bercerita kepada sahabatku ini, tapi dia mengerti dan tahu bagaimana harus bersikap. Aku adalah orang yang tidak suka didesak untuk bercerita, jika aku sendiri tak menginginkannya. Sudah seminggu lebih aku menjadi sedikit gila dengan keadaan ini. Sudah beribu cara dan alasan kupikirkan apa yang membuatnya berubah seperti sekarang ini. Apa salahku? Beribu kali kuberpikir, tak pernah kutemukan jalan keluarnya.

Teet….!!!!! Teet…..!!! Teet….!!!

Bel sekolah berdering nyaring memekakkan telinga seperti biasanya. Tapi kelas hari ini masih begitu sepi, hanya segelintir orang yang baru memasuki kelas. Jam pertama adalah kelas seni, dan untuk itu, aku telah menyiapkan gitar untuk presentasi menyanyi pagi ini. Nama demi nama bergilir, hingga guru seni menyebut nama Venus Putri Tunggadewi. Aku terperanjak, setengah kaget. Dengan cepat aku menguasai kegugupanku, meskipun aku tidak terlalu pintar menyanyi, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga menyanyi dengan sepenuh hati.

“Hey semua, aku akan mempersembahkan sebuah lagu dari Avril Lavigne, yang berjudul Fall the Piece. Enjoy it…”

Dengan pelan, aku mulai berdendang dengan diiringi petikan gitar akustik yang kubawa tadi. Dalam hati, lagu ini kupersembahkan untukmu yang ada disana. “Yudha, sosokmu yang duduk di bangku paling belakang, lagu ini untukmu”. Batinku.

…. I don’t want to fall the pieces. I just want to sit and stare at you. I don’t want to talk about it.

…. And I don’t want a conversation. I just want to cry in front of you. I don’t want to talk about it. ‘Cause I’m in love with you……

Sekilas, sebelum benar-benar mengakhiri lagu ini, aku melihat tatap matanya tertuju padaku. Untuk sesaat mata kami bertemu, mata itu, mata yang kurindukan. Mengapa kau menatapku seperti itu? Mengapa kau menampakan wajah yang penuh kesedihan yang sama denganku? Mengapa kau menjauhiku? Batinku terkoyak dengan kenyataan yang tak bisa kumengerti.

“Tepuk tangan untuk suara lembut dari Venus.” Terdengar suara guruku diikuti dengan tepuk tangan teman-temanku. “Next, sekarang giliran Yudha Arifa Hutama. Please perform your performance.”

Dari tempat dudukku, aku mencoba mencerna setiap nada dan syair yang dia nyanyikan, begitu indah, terlalu indah hingga membuatku meneteskan air mata. Tetapi, aku segera menyekanya dan memberikan tepuk tangan untuk Yudha.

***

Pelajaran hari ini selesai sudah. Saatnya untuk mengepak barang-barangku, dan siap untuk pulang. Tapi tiba-tiba dua gadis konyol menariku bangkit dan membawaku dengan paksa untuk mengikutinya. Yah, siapa lagi kalau bukan Shely dan Lani sahabat yang paling bodoh dan konyol yang pernah kutemui.

“Eh eh.. aku mau dibawa ke mana nih?” Tanyaku penasaran.

“Diam dan ikut saja.” Kata Lani padaku. Kulihat Shely mulai menstarter motor matic-nya.

“Ayo naik!!” suruh Shely. Dengan masih membawa gitar akustik ditanganku, aku menuruti saja kata temanku yang satu itu.

“Tapi motorku?” tanyaku memelas dengan nasib Ms. Red yang akan ditinggal begitu saja di parkir sekolah.

“Sini aku yang bawa.” Tawar Lani sambil mengulurkan tangannya ke arahku. Saat itu juga ku lemparkan kunci Ms. Red pada Lani.

Dengan senang hati aku mengikuti kemauan sahabat-sahabatku ini. Kemudian aku mulai tahu, di mana mereka akan membawaku, jalan ini menuju ke arah rumah Shely. Tapi yang membuatku heran, kami terus melaju padahal rumah Shely telah terlewati beberapa menit yang lalu. Ternyata aku dibawa ke danau yang berada di dekat rumahnya.Wow… amazing. Batinku.

“Nah sampai….” Kata Lani “sekarang ceritakan semua masalahmu kepada kami!” pintanya.

Ragu-ragu aku untuk menceritakan semuanya. Tapi apalah artinya seorang sahabat, jika kau tak mau berbagi dengannya. Kemudian, aku mulai menceritakan semuanya.

Hari itu, hari terakhir yang kami alami bersama, hari di mana aku kehilangan sosok yang nyaman untukku bersandar. Waktu itu, untuk sekian kalinya aku akan diantar pulang oleh Yudha. Di jalan, tiba-tiba teman-temannya datang, mereka menghampiri kami, dengan tatapan penasaran, mereka memandangku lekat-lekat. Saat itu juga Yudha langsung menyuruhku pulang dengan tatapan marah bercampur menyesal. Mendengarnya, aku hanya bisa menurut saja, dan dari jauh aku melihat sosok Yudha yang sedang dikerumuni oleh teman-temannya. Dia mencoba menjelaskan sesuatu, tapi aku tak tahu apa itu.

Malamnya dia mengirimkan pesan singkat ke ponselku. “Maafkan aku” tulisnya. Sejak saat itu Yudha tidak pernah berbicara padaku bahkan via ponsel-pun tidak pernah. Genap dua minggu sejak kejadian itu, dan diantara kami tidak ada perubahan. Aku sudah seperti orang gila dibuatnya. Aku terus memikirkan apa salahku, apa sebenarnya salahku padanya. Tapi tak ada kata yang cukup untuk menjelaskan semuanya.

Di tambah lagi, aku bukanlah pacarnya. Tidak ada kata cinta di antara kami. Kami hanya sepasang teman yang nyaman jika kami berdua bersama. Jika salah satu dari kami tak ada, kami merasa seperti kehilangan separuh bagian dari tubuh kami, yang jelas itulah yang saat ini kurasakan.

Jujur, aku tak punya cukup keberanian untuk menanyakan semuanya. Sekarang yang ada diantara kami hanya “diam, diam, dan diam” tanpa menyapa dan bicara satu sama lain. Aku rindu dengan Yudha yang dulu. Yudha yang selalu bercanda denganku.

“Parah, kenapa nggak cerita dari kemarin. Kalau tahu begini, kami udah bantuin dari dulu.” Kata Shely sambil bangkit dari tempatnya duduk. Lani yang dari tadi melempar batu ke arah danau hanya bisa menggeleng-geleng tak percaya.

“Selama ini kaliankan deket banget, tapi kenapa dia tega berbuat seperti ini. Memangnya kamu salah apa?” kata Lani padaku.

“Entahlah… Apa aku membuatnya malu di depan teman-temannya?” tanyaku.

“Malu kenapa? Siapa sih yang bakal malu jika bersamamu? Pasti orang itu sudah tidak waras.” Katanya sambil menggodaku.

“Kenyataannya dia tega membuatku seperti ini.” Kataku

“Kalau itu, aku tak bisa menjawabnya, mendingan kau tanya sendiri langsung ke orangnya.” Kata Lani

“Kau itu bodoh atau apa sih? Kalau berani, sudah dari dulu aku bertanya.” Kataku sarkatis yang tak bisa menerima betapa bodohnya temanku ini.

“Oya ya” katanya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Bodoh…!!!” kataku.

Jreng…Jreng…Jreng…Suara gitar akustik mengagetkan aku dan Lani, dengan wajah yang serius Shely memainkan gitarku untuk memecahkan suasana. Kami pun terlarut dalam alunan melodi yang dimainkan oleh Shely.

“Let’s go home.” Kata Shely, dia mengajak kami berdua pulang, karena hari sudah sore. Kulirik jam tanganku menunjukan pukul lima sore. Kami bertiga bangkit dari tempat duduk kami, dan beranjak pulang.

“Vey, aku punya rencana.” Katanya yang kemudian berbisiki-bisik dengan Lani.

“Apa..?” tanyaku penasaran.

“Liat aja besok.” Katanya yang semakin membuatku penasaran.

“Sialan….” Lani dan Shely hanya tertawa terkekeh mendengar umpatanku

***

Siang ini, saat pelajaran akan berakhir, Lani dan Shely bergegas membereskan barang-barangnya untuk pulang. Buru-buru sekali, batinku. Tepat  saat bel berbunyi tiga kali, sepasang gadis ini langsung berlari keluar kelas.

“Tunggu….!!!”teriakku karena aku telah ditinggalnya. “Ada apa sih, konyol..” aku bergumam sendiri karena kesal, dan mereka sama sekali tidak menoleh saat aku berteriak.

Dengan sedikit tergesa-gesa, aku mencoba mengejar kedua temanku itu. Tapi, dari kejauhan, kulihat Shely dan Lani sedang bercengkrama dengan orang yang semingguan ini telah membuatku gila. Ya, siapa lagi kalau bukan Yudha. Orang yang begitu kusayangi, dan paling tak kumengerti. Damned!! Batinku.

Perlahan-lahan, aku berjalan mendekati mereka. Detak jantungku semakin lama semakin cepat seiring dengan jarak yang semakin dekat. Samar-samar aku mulai bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Mereka sedang membicarakan aku.

Dari tempat ini, aku harap Yudha tak bisa melihatku. Aku ingin sekali mendengar percakapan mereka. Yang berarti aku harus menguping, tapi objeknyakan aku. Tak apalah.

“…Kau kenapa Yud? Apa salah Venus? Tega kamu ya?” Terdengar suara Shely yang semakin membuat jantungku berlari marathon. Selama ini, inilah hal yang ingin aku tanyakan. “Apa salahku? Ayo Yud jawab!” Batinku.

“…Venus ngak salah. Aku yang salah” kata Yudha.

“…Lalu?”

“…Ngak papa.” Terdengar suara Yudha yang melemahah.

“…Apa kau tidak kasihan dengan Vey. Huh!! Selama ini kamu itu sayang nggak sih sama Vey?” terdengar suara Shely yang mulai meninggi.

“…Apa urusannya denganmu. Aku peringatkan ya. Ini tidak ada hubungannya dengan Venus. Ini masalahku. Masalah si pengecut ini.” Terdengar suara Yudha yang sontak membuatku terkejut.

“Pengecut” memang apa hubungannya. Memangnya apa yang telah dilakukan Yudha. Tak tahan lagi, aku beranjak dari tempatku dan menghampiri mereka.

“Yudha…” kataku.

Seketika itu Yudha langsung menoleh dan memasang wajah panik. Dia tak pernah mengira akan ada aku ditempat ini.

“Vey….” Katanya pelan hingga terdengar seperti berbisik.

“Aku hanya ingin bertanya? Kuharap kau jujur.” Kuberanikan diri untuk menanyakannya. Aku ingin segera mengakhiri kegelisahan ini.

“Aku harap aku bisa” katanya yang langsung mengalihkan pandangannya, yang sepertinya tak ingin melihat mataku.

“Kamu kenapa? Kenapa kamu jadi begini? Aku salah apa? Kalau aku salah, aku minta maaf. Tapi jangan seperti ini. Jujur, aku nggak kuat.”

“Maaf Vey… kamu nggak salah. Aku yang salah. Maaf ya.”

“Tapi kenapa…?” kurasakan mata ini semakin panas, semakin lama pandanganku semakin kabur. Setelah itu aku merasa air mata ini telah membasahi pipiku. Dengan sigap, Yudha mengulurkan tangannya dan membelai rambutku.

“Aku tak tahu kau begitu terluka. Aku hanya tak ingin teman-temanku mengincarmu, aku tak ingin mereka salah sangka dengan kita. Maaf ya…” katanya lembut sambil menenangkan aku. “Kau tahu, sudah sekian lama aku bersamamu, sehari tanpamu sungguh membuatku hampa Vey…!” lanjutnya.

“Kau baru sadar! aku sudah setahun yang lalu, kau tahu…” kataku sambil mengusap air mataku.

“Setahun? Benarkah? Maaf ya. Aku tak tahu.” Katanya salah tingkah. “Kenapa baru bilang sekarang?” lanjutnya sambil menggoyang-goyangkan pundakku.

“Aku malu. Aku ini wanita, aku hanya bisa menunggu sampai kau mengucapkannya. Tapi, aku bahagia selama ini bisa bersamamu tanpa mengucapkannya.” Ujarku.

Tiba-tiba Yudha menarik tubuhku ke pelukannya, dalam dekapannya dia mengucapkan cinta. Tapi saat ini kata itu tak penting lagi bagiku, yang terpenting adalah aku dan Yudha sudah berbaikan seperti dulu, bahkan lebih dari dulu

“Heemh…. Jangan lupakan kita. Kami masih disini teman” kata Shely dan Lani yang sontak membuatku dan Yudha kaget dan malu, karena hampir saja melupakan makhluk dua itu yang sedari tadi melihat kami. Mungkin dalam benak mereka berdua, mereka sedang menonton dramaqueen. Aku harap tidak.